Panggilan Bos Swalayan

Hujan yang turun menjelang magrib itu begitu sempurna. Deras tanpa angin. Halaman sekolah yang luas dan berumput hijau cepat digenangi air. Di sepanjang saluran bangunan sekolah, air dari tuturan atap mengalir dengan cepat. Sementara itu seorang pria paruh baya terlihat duduk sendirian di salah satu kursi di meja piket koridor kantor majelis guru.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

Pria paruh baya itu, pak guru Sudirman sebenarnya tidak sedang bermenung. Tidak pula merasa kesepian. Ia hanya menikmati karunia ilahi. Sambil berharap hujan yang turun jelang senja itu benar-benar membawa berkah.

Tadi sebelum turun hujan, pria diujung masa pensiun itu mendapat pesan WhatsApp dari sebuah swalayan di desa itu. Ia diundang datang malam itu juga oleh pemilik swalayan.

Tapi karena hujan turun sejak jelang magrib, ia menunda waktu untuk memenuhi undangan itu. Paling tidak menunda sampai hujan berhenti.

Kesendirian bukanlah hal yang ditakutkan bagi pria berusia diujung senja itu. Ia sudah terbiasa hidup sendirian meski di tengah keramaian.

Ia pun menyadari setiap orang pada mulanya juga sendiri, di alam rahim. Kemudian lahir dalam kesendirian, tanpa membawa apa-apa. Tanpa membawa sehelai benang pun penutup tubuh.

Proses kehidupan akan berjalan sebagaimana mestinya. Dari lahir menjadi bayi, bocah dan anak-anak. Kemudian menginjak remaja dan dewasa.

Berkeluarga dan punya keturunan. Banyak lika-liku hidup yang dialami. Suka dan duka silih berganti.

Adakalanya diusia senja ada yang terbuang, disisihkan. Hidup sendiri. Terpisah dari istri dan anak karena memang takdir. Seperti yang dialami pria paruh baya yang duduk terdiam di kursi meja piket gedung kantor majelis guru itu.

Usai salat Isya hujan pun berhenti. Ia kembali berniat untuk memenuhi panggilan pemilik swalayan. Sebuah swalayan ternama yang menjadi tempat belanjanya hampir setiap hari.

Pak Sudirman mengibaskan pakaiannya yang sedikit basah sesampai di parkiran motor di depan swalayan. Tadi ia berangkat saat hujan berhenti namun di perjalanan masih turun gerimis kecil.

Dengan merapikan sedikit rambut dan pakaiannya pak Sudirman melangkah pelan menuju pintu kaca swalayan. Petugas swalayan yang masih muda menyapanya.

"Selamat malam, pak..." sapa seorang petugas di dekat pintu kaca sambil membungkukkan tubuh.

"Selamat malam juga, nak..." sahut pak Sudirman ramah.

Pak Sudirman seperti layaknya seorang pejabat. Tapi ia bukan pejabat melainkan pelanggan tetap swalayan itu.

"Hmm, saya minta bantuanmu, nak. Tadi saya menerima chat wa dan diundang untuk datang ke swalayan ini," ujar pak Sudirman.

"Oh, ya. Bos kami memang mengundang bapak untuk datang..." balas petugas.

"Kira-kira urusan apa ya, nak?"

"Kami tidak tahu, pak. Mari saya antar bapak ke lantai dua, kantor swalayan ini...." balas petugas.

Pak Sudirman mengekor di belakang petugas di antara deretan etalase barang. Kemudian menaiki tangga.

"Pak, ini kantor bos kami. Silahkan, pak. Saya permisi dulu..."

"Ya, terima kasih banyak ya nak."

Petugas swalayan berlalu dan turun lewat tangga. Sementara pak Sudirman terlihat ragu untuk mengetuk pintu kantor pimpinan.

"Silahkan masuk, pak..."

Terdengar sahutan dari dalam tatkala pak Sudirman mengetuk pintu kantor dengan pelan tiga kali.

"Assalamualaikum, buk..." ujar pak Sudirman saat menguak daun pintu.

"Waalaikumsalam...."

Pak Sudirman tercengang. Ia tidak melihat seorang pun. Kecuali bagian punggung kursi kantor yang terlihat di belakang meja.

Tiba-tiba kursi kantor itu berputar pelan dan kini seorang wanita muda terlihat duduk manis di kursi itu.

Wanita itu tersenyum. "Silahkan duduk, pak guru..." ujarnya ramah seraya tersenyum.

Pak Sudirman sudah duduk di kursi dan berhadapan dengan pemilik swalayan.

"Bagaimana kabar bapak?" 

"Alhamdulillah, baik buk..."

"Panggil saja saya Hani, bapak.... Tapi apakah bapak sudah lupa dengan saya?" tukas Haniva.

Pak Sudirman mengamati wanita muda dan cantik di depannya. Dalam pikiran pak guru itu teringat seorang muridnya belasan tahun silam.

"Masyaallah, kamu Haniva Murniati...?" seru pak Sudirman.

Haniva mengangguk.

"Pantasan bapak nyaris lupa..."

"Kenapa, pak?"

"Kamu makin cantik saja setelah dewasa...."

"Ih, bapak... Rayuannya masih seperti dulu juga ..." Haniva tersipu.

Pertemuan pelanggan dan pemilik swalayan itu akhirnya berubah suasana menjadi reunian guru dan mantan murid.

Haniva menceritakan kembali sedikit kesannya tentang pak Sudirman ketika mengajar di kelasnya dulu.

"Bapak selalu m*r*kok di kelas kemudian memesan kopi di kantin. Saya sering mengacungkan tangan mengajukan diri untuk bapak suruh memesan segelas kopi..." tutur Haniva.

"Wah, bapak jadi malu...."

"Santai saja, pak. Tak usah malu. Toh, saya undang bapak kesini karena bapak termasuk salah seorag pelanggan harian belanja di swalayan kami ini...."

"Iya, pelanggan setia untuk membeli r*k*k..."

Haniva berdiri, mengambil sesuatu. Sebuah bingkisan ditaruh di meja. "Ini sedikit bingkisan untuk bapak sebagai pelanggan tetap...."

"Oh, ya? Ini untuk bapak?"

Haniva mengangguk gembira. "Tapi saya harap bapak mengurangi kebiasaan itu mengingat usia bapak ..."

"Iya, mudah-mudahan bisa, Hani..."

"Maaf pak, jika saya lancang bertanya..." ujar Haniva tiba-tiba merendah. Nada suaranya terdengar serius.

Pak Sudirman tercenung. Pertanyaan Haniva membuat dirinya agak kaget. Bukan ia merasa tersinggung. Tapi darimana mantan muridnya tahu kalau ia menduda?

"Sekali lagi maaf ya, pak ...."

"Oh, tidak apa-apa. Kamu jangan grogi dan merasa bersalah begitu...."

Haniva kini terlihat lega. Ia terlepas dari perasaan bersalah akibat pertanyaan gilanya barusan.

"Sudah ada calon penggantinya, pak?" 

Pak Sudirman menggeleng.

"Kenapa, pak?"

"Belum berniat mencari gantinya, Hani..."

"Masih mencintai ibuk?"

"Tidak...."

"Lantas?"

"Bapak ingin hidup sendiri dulu, sekadar untuk menenangkan pikiran dan hati..."

"Oh..."

Pak Sudirman terdiam setelah mendengar ucapan "oh" dari mulut mantan muridnya itu.

"Maksudmu?"

"Beda ya dengan saya, pak. Saya juga sudah menjadi singel parent. Tapi saya tidak mengingini keadaan seperti ini. Mungkin karena saya masih muda, pak..."

"Mudah-mudahan cepat ketemu calon dan jodoh yang tepat, sesuai dengan keadaanmu seperti sekarang..."

"Aamiin. Terima kasih doanya, pak..."

"Kalau begitu bapak permisi dulu ya, Hani." ujar pak Sudirman sambil berdiri. Haniva pun berdiri dan menerima uluran tangan mantan gurunya semasa sekolah.***