Terjebak Harimau Siluman (Bagian Ketujuh)

Terjebak Harimau Siluman (Bagian Ketujuh) - Suasana pasar desa Kembang Setangkai terlihat sedang ramai pagi itu. Orang-orang sibuk berjual-beli sehingga lorong di antara satu lapak dengan lapak lain dalam pasar jadi sesak.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

Di salah satu lapak atau warung sarapan terlihat pula orang tengah menikmati sarapan pagi. Mereka terlihat lahap menikmati sarapan Ketupat Gulai Pakis warung Amai Siti.

Dari jarak sekian meter saja, mata Suryadi tertuju pada warung sarapan itu. Di depan etalase dari plastik itu tertulis Ketupat Gulai Paku Amai Siti.

Warung darurat itu di lingkari dengan kain penutup hingga bahu sehingga masih tampak bahu ke atas pengunjung.

Suryadi ingin membatalkan niatnya untuk mampir. Di lapak sederhana itu terlihat Amai Siti, istri paman Sariaman sedang melayani pengunjung. Tetapi Suryadi tidak melihat Marwati, anaknya Amai Siti.

"Hai, pak guru kok melongo saja, ayo mampir dulu ke lapakku," sapa seorang perempuan dari belakang.

Suryadi terkejut. Ia menoleh ke arah pemilik suara itu. 

"Eh, kamu Marwati..." ujar Suryadi tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.

"Kalau pak guru mau sarapan, ayo mampir. Biar aku yang membuatkan ketupat gulai paku, tak usah bayar..." balas Marwati gembira.

"Iya, deh..." 

Marwati, keponakan paman Sariaman memang orangnya ceria. Asik kalau diajak bicara oleh siapa pun.

Simak juga:

Terjebak Harimau Siluman Bagian Keempat

Tidak hanya itu, Marwati juga cantik dan berpenampilan seperti wanita  kekinian lazimnya.

"Lho? Pak guru malah melamun?"

"Ee...anu, saya segan sama Amai, Mar..." Suryadi gelagapan.

"Awas pak guru...!" Tiba-tiba Marwati berseru dan spontan menarik lengan Suryadi sampai mendekat ke tubuhnya. Tadi seorang pemanggul beras karung hendak lewat.

Suryadi melirik Marwati dengan jarak terlalu dekat ke wajah Marwati. Baru kali ini Suryadi melihat wajah Marwati pada jarak sangat dekat.

Mukanya oval berkulit putih bersih dengan hidung mancung dan bibir yang indah. Suryadi menikmati kesempatan yang jarang dimilikinya.

"Oh, maaf pak guru..." Marwati tersipu malu. Ia kembali mundur berdiri merenggang dari Suryadi.

"Tidak apa-apa kok, Mar..." balas Suryadi.

Sementara itu dari dalam lapak, Amai Siti sedang memperhatikan diam-diam ke arah Marwati dan seorang pria.

Ia tahu itu pria itu anak pisangnya, keponakan suaminya.

Baca juga:

Anak Pisang

"Tambuh satu porsi lagi, Mai...." teriak seorang pria dari pojok warung.

Amai Siti tak mendengar.

"Oi Amai, apa sih yang dilihat?" sambung pelanggannya itu heran karena tadi tak mengacuhkan permintaannya.

"Oh, iya. Apa tadi? Tambuh satu porsi lagi ya?" balas Amai Siti malu.

"Mak, ini pak guru Suryadi mampir..." seru Marwati tiba-tiba sudah berada dalam warung memberi tahu ibunya. Tapi sebenarnya Amai Siti sudah melihatnya tadi.

Suryadi menyalami Amai Siti. 

"Lho, semestinya kamu datang ke rumah. Tapi tak apalah, silahkan duduk..." ujar Amai Siti, bakonya.

Sementara itu Marwati menyiapkan sepiring sarapan. 

"Mar, kamu bungkus atau tutup saja piring itu dan bawa pulang. Biar Suryadi sarapan di rumah saja...'

"Baik, Mak..." Marwati mengangguk. Hatinya jadi riang. Ia tahu kalau ayahnya Sariaman menjodohkan dirinya dengan orang yang dipanggilnya pak Guru itu.

Lihat juga :

Cerpen Anak Bako

Marwati sudah siap dengan sarapan untuk di bawa pulang. "Pak guru, kita di rumah saja sarapannya," ujar Marwati.

"Iya, nggak apa-apa..." balas Suryadi bangkit.***